Saturday, March 2, 2013

[FF Special] Happy Birthday...Park Chorong!

Diposkan oleh Annisa Mandasari di 8:07 PM


Author : @nisamanda

Genre : Romance

Cast :

Park Chorong

Choi Minho

Lauren Lunde

Length : OS

Rate : PG 13

HAI..............!!! SINGKAT AJA YA. FF INI AUTHOR BIKIN SPESIAL BUAT CHORONG UNNIE YANG TANGGAL 3 MARET INI ULANG TAUN. SEMOGA KALIAN SUKA^^


-00-


“Hoam.....” sinar matahari sedikit demi sedikit mulai masuk ke dalam kamarku melalui celah-celah jendela yang entah sejak kapan tirainya mulai terbuka.  Aku pun menggeliat sebentar. Sepertinya, aku bangun terlalu siang hari ini. Kenapa mereka tidak membangunkanku?
                Aku bangun dengan raut wajah yang agak sedikit berantakan, seperti keadaan rambutku saat ini. Setelah merasa sudah benar-benar sadar, aku pun berjalan menuju keluar kamar bermaksud untuk melakukan aktivitas pagiku yaitu mengomel pada member-member A Pink lainnya.
                Tapi ketika aku sudah siap-siap untuk melancarkan semua aksiku, aku melihat sesuatu yang janggal. Dorm A Pink sepi! Tidak ada satupun orang di ruang TV. Kemudian aku pun berjalan menuju dapur. Biasanya pagi-pagi seperti ini, Namjoo dan Bomi sudah sibuk untuk memperebutkan jatah sarapan mereka masing-masing yang sepertinya tidak akan pernah cukup.
                “Kemana mereka semua? Apakah mereka semua pergi? Tapi kenapa mereka semua tidak pamit kepadaku?” aku berbicara sendiri seperti orang tidak waras. Setelah puas untuk mengomel, aku pun terduduk di sofa ruang TV. Saat ingin mengambil remote untuk menyalakan televisi, aku melihat ada secarik kertas yang tergeletak di meja tempat remote itu berada.
                Dear Chorong Eonnie yang Cantik
                Eonnie...maafkan kami. Kami ingin pergi ke pusat perbelanjaan dulu untuk menghibur diri dulu dari segala aktivitas A Pink yang sangat padat selama ini. Sebenarnya, kami semua ingin mengajakmu. Tapi bagaimana lagi? Kau terlihat sangat lelah jadi kami tidak berani untuk mengganggumu. Jangan lupa bereskan rumah ya eonnie^^ kami menyayangimu hihihi
                Dari: Kami yang menyanyangimu ^o^
                Aaarrgggh sial! Mereka semua mengerjaiku. Aku membayangkan, pasti mereka semua sekarang sedang bersenang-senang. Sedangkan aku? Harus terdampar disini sendirian sambil membersihkan rumah. Tuhan...kenapa mereka semua tega sekali padaku? Bukankah aku selama ini selalu baik pada mereka?
-00-

                “Hahaha pasti chorong eonnie sekarang sedang menangis karena membaca memo dari kita.” kata Bomi sambil tertawa puas. Member A Pink lainnya pun langsung melihat ke arahnya.
                “Aku sebenarnya tidak tega melakukan semua ini. Kalau saja hari ini bukan hari spesialnya.” komentar Naeun sambil menundukan kepalanya. Mereka semua langsung terdiam dan ikut tertunduk juga. Sebenarnya, mereka semua berpikiran sama. Tidak ada yang pernah tega untuk mengerjai sang leader. Leader mereka tersebut, walaupun kadang-kadang galak tapi nyatanya dia sangat sayang tehadap semua member lain yang umurnya lebih muda daripada dia. Eunji, Bomi, Naeun, Yookyung, Namjoo, dan Hayoung pun juga sangat menyayangi Chorong. Kalau saja hari ini bukan tanggal 3 Maret...mungkin mereka tidak akan pernah berpikir untuk melakukan ini semua.
                “Ya! Kalian semua jangan sedih seperti ini. Kita harus tega pada Chorong eonnie. Ingat, hari ini kita akan memberikan kejutan padanya.” Eunji tiba-tiba bersuara. 3 Maret? Ingatkah kalian ada apa hari ini? Ya hari ini adalah hari ulang tahun Chorong. Dan mereka semua disini sekarang bersiap-siap untuk memberikan kejutan pada leadernya tersebut.
                “Baiklah...jadi apa yang akan kita lakukan hari ini?” Hayoung yang dari tadi diam akhirnya bertanya dengan nada polos.
                “Kita lihat saja nanti. Aku yakin Chorong eonnie pasti akan menyukainya.” jawab Bomi sambil tersenyum evil.

-00-

                Chorong POV
                Akhirnya....setalah sejak tadi pagi aku sibuk membersihkan seisi rumah, aku pun bisa duduk santai untuk beristirahat. Aku melihat sekelilingku yang tampak lebih baik. Aku mengerti kenapa ada pribahasa yang mengatakan bahwa “berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.” Ternyata, membersihkan rumah secara bersama-sama lebih mudah ketimbang mengerjakan semuanya sendiri.
                Biasanya aku yang  bertugas untuk membagi pekerjaan rumah pada masing-masing member. Eunji tugasnya menyapu. Naeun membersihkan kaca. Bomi mengepel lantai. Yookyung membereskan ruang TV. Sedangkan, Namjoo dan Hayoung bertugas untuk memasak juga mencuci piring. Aku jadi merindukan mereka. Mereka pasti sekarang sedang bersenang-senang tanpaku.
                Aku berniat untuk beristirahat sejenak. Baru saja aku ingin menyalakan televisi, tiba-tiba aku mendengar suara seseorang dari luar. Aku pun kemudian beranjak bangun dari sofa dan berjalan menuju ke arah pintu dari luar. Semakin dekat....semakin terdengar suara tersebut. Seperti suara orang sedang menangis.
                “Huaaaa....hiks hiks hueeee” tangis itu pun makin lama terdengar semakin kencang. Aku berniat untuk membuka pintu dan melihat siapa yang sedang menangis di luar. Tapi tak lama kemudian aku ingin berubah pikiran. Aku takut kalau ternyata itu adalah suara orang yang berniat jahat padaku.
                Aku pun kemudian mengambil tongkat baseball milik Eunji yang terletak tak jauh dari tempatku berada sekarang. Aku sudah bersiap-siap untuk menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi. Ternyata....
                “Hueeeee...hiks hueeee” aku melihat seorang gadis kecil sedang menangis sambil terduduk di depan pintu dorm kami. Gadis kecil itu sepertinya sudah lama menangis dan...aku bingung bagaimana harus menghadapinya. Aku pun mendekatinya dan mengusap pipinya yang merah.
                “Adik kecil...kenapa kamu menangis?” aku bertanya sambil mengusap kepalanya. Ku lihat dia memperhatikanku sebentar kemudian tak lama dia kembali melanjutkan kegiatan menangisnya. Aku semakin bingung. Tuhan...aku harus bagaimana?
                “Cupcupcup jangan menangis sayang. Aku harus bagaimana supaya kau tidak menangis?” aku mulai frustasi. Tangisnya tak lama kemudian mulai berkurang, hanya sisa isakan yang masih ada.
                “Jadi, namamu siapa adik kecil?” tanyaku sambil tersenyum
                “Hiks...namaku Lolen.” jawabnya singkat sambil mengusap kedua matanya yang berair.
                “Hmm...jadi kenapa Lolen bisa ada disini?” tanyaku hati-hati sambil mengusap pelan rambutnya.
                “Hiks...lolen tadi disuruh tunggu disini sama eomma. Katanya eomma mau pergi sebentar. Tapi eomma perginya lama. Eomma ninggalin lolen hueeee” Lolen kembali menangis. Aku semakin bingung. Bagaimana caranya agar dia tidak menangis lagi? Memang sih panggilanku adalah Rongma. Tapi bukan berarti aku bisa dengan mudah menghentikan anak kecil yang sedang menangis seperti sekarang ini.
                “Lolen sayang jangan menangis. Bagaimana kalau lolen sekarang masuk dulu ke dalam dorm eonnie? Lalu kita bermain di dalam sambil menunggu eomma kamu datang.” Ajakku lembut kepadanya. Ku lihat tangisnya kembali berhenti. Dia melihat padaku dengan tatapan polosnya. Aigoo...lucunya anak ini.
                “Baiklah eonnie...tapi eonnie tidak akan jahat pada Lolen kan?” tanyanya dengan takut-takut. Apakah tampang polos sepertiku ini bisa dibilang tampang orang jahat? Hft lama-lama aku frustasi.
                “Tidak mungkin sayang. Eonnie orang yang baik. Kajja kita masuk.” aku pun memegang tangannya dan mengajaknya masuk. Untung keadaan dorm sudah bersih...kalau tidak aku pasti akan malu pada anak kecil ini.
                “Eonnie...apakah eonnie sendirian disini?” lolen bertanya sambil melihat keadaan sekelilingnya yang memang sepi. Aku pun menghela nafas panjang.
                “Sebenarnya tidak. Eonnie tinggal dengan 6 orang adik eonnie disini. Tapi mereka sedang pergi sekarang. Kalau mereka sudah pulang, Lolen pasti bisa bermain dengan mereka.” Ya itu juga kalau mereka pulang. Hari sudah siang tapi kenapa mereka belum pulang juga? Apakah mereka tersesat? Sepertinya tidak mungkin. Aku sebenarnya daritadi sudah menghubungi mereka. Tapi sial telepon genggam mereka tidak ada yang aktif.
                “Oh begitu...eonnie aku bosan. Aku ingin menonton.”
                “Baiklah...mari kita lihat acara TV siapa tau ada yang menarik.” Kemudian aku menyalakan televisi. Apa ini? Di hari sabtu seperti ini kenapa semua acara TV rata-rata adalah drama percintaan? Lolen tidak mungkin menonton acara seperti ini. Aku pun mencari akal. Aha! Aku tau.
                Aku berlari menuju kamar Hayoung, meninggalkan Lolen yang sepertinya sedang asyik bermain dengan remote TV. Di kamar Hayoung, ternyata berantakan sekali. Aku mencari sebuah barang. Ketika mencari, aku pun menemukan sesuatu. Sebuah tanggal berbentuk badan Rilakkuma. Karena iseng, aku mengambil tanggal tersebut. Siapa tau  Hayoung merencanakan sesuatu karena ku lihat ada beberapa tanda yang terdapat di masing-masing tanggal itu.
                Ketika sampai di bulan Maret, aku menemukan sebuah tanda di tanggal 3. Ya...itu adalah hari ulang tahunku dan hari itu adalah hari ini. Namun, sepertinya mereka semua lupa dengan hari spesialku itu. Entahlah...tapi memang benar buktinya tak ada satupun teman-teman satu agency ku dari Cube yang mengucapkan selamat kepadaku. Biasanya dari pagi, para sunbae dan hoobae ku tidak pernah lupa.
                “EONNIE.......” aku tersadar dari lamunanku. Sepertinya, Lolen memanggilku. Aku pun bergegas untuk mencari barang yang aku cari. Hore! Akhirnya ketemu.
                “Mian, eonnie tadi mencari sesuatu dulu. Ini yang eonnie cari hehe.” Jawabku sambil menunjukan DVD Pororo yang sekarang ada di tanganku. Aku tau maknae masih menyimpan barang-barang seperti ini, makanya aku mencari ditempatnya.
                “Yey! Lolen suka Pororo.” Lolen berteriak senang saat aku menunjukkan DVD Pororo tersebut. Aku tau, anak-anak kecil di dunia khususnya di Korea saat ini sedang terkena demam Pororo. Menurutku, pinguin kecil itu memang lucu. Maka dari itu, tidak salah banyak orang yang menyukainya termasuk aku. Tapi...aku tidak separah Lolen sih hehehe
“Eonnie...ayo nyalakan film ini.” pinta Lolen sambil menarik bajuku.
                “Baiklah...tunggu sebentar.” Sambil memasang DVD itu, aku pun melirik jam. Ya ampun...sudah jam 12 siang dan mereka belum pulang juga? omelku dalam hati. Setelah DVD Pororo tersebut terpasang, aku pun duduk kembali di sebelah Lolen dan menemaninya menonton. Entah karena kelelahan...aku pun tertidur ketika mendengarkan musik yang dimainkan oleh kartun tersebut.
-00-
                Dering telepon genggamku, tiba-tiba saja membuatku terbangun. Aku pun langsung menjawab tanpa melihat siapa yang ada diseberang sana, yang sedang meneleponku.
                “Yeobosseyo?” tanyaku membuka percakapan.
                “Cho...ini aku Minho. Apakah kau sedang di rumah?”
                “Iya aku sedang di rumah, memangnya kenapa?” Aku menguap sebentar saat menjawabnya.    “Tidak. Aku ingin mengajakmu pergi ke taman bermain. Apakah kau sedang sibuk?”
                “Hah? Tumben sekali...sebenarnya aku sedang sibuk me-“ aku refleks menoleh ke arah sebelahku. Ya ampun....dia kemana?
                Tanpa menghiraukan Minho yang daritadi memanggil namaku di telepon,  aku tetap mencari dia. Ya! Lolen... dia kemana??? Terakhir aku meninggalkannya karena tertidur, aku ingat dia masih ada di sebelahku sambil menonton Pororo. Tapi...tapi kemana dia sekarang? Jeritku dalam hati.
                Aku mencari ke segala sudut ruangan. Tidak ada...tidak ada...aku ingin menangis. Apakah eommanya sudah menjemput dia? Tapi kenapa mereka tidak pamit dulu kepadaku?
                “Oppa...tolong aku. Cepatlah datang ke dormku sekarang juga.” aku mulai menangis ketika berbicara dengan Minho. Sebenarnya umurku dan dia tidak jauh berbeda, kita satu lines. Tapi aku sudah terbiasa sejak dulu memanggilnya oppa. Memang aneh, tapi sepertinya Minho sudah terbiasa dengan itu semua.
                “Kau kenapa cho? Baiklah aku akan ke sana sekarang juga. Jangan menangis.” Minho mencoba untuk menenangkanku. Aku terduduk lesu di sofa. Pikiranku kalut karena Lolen. Aku takut...saat tertidur tadi, dia pergi ke luar dan ternyata dia diculik oleh orang jahat! Tidak...aaaaaaargh. Aku terisak saat memikirkan itu.
                Bagaimanapun juga, walaupun baru kenal tapi sebenarnya aku sangat menyesal jika Lolen sekarang benar-benar diculik orang jahat. Aku sangat menyayangi anak kecil...membayangkannya saja sudah membuatku ingin menangis.
                Ting...Tong...Ting...Tong
                Suara bel dorm berbunyi. Itu pasti Minho! Ketika membuka pintu, tanpa bu-bi-bu(?) aku pun langsung memeluknya. Aku menangis dipelukannya. Aku takut...aku takut terjadi apa-apa dengan Lolen. Minho sepertinya kaget dan bingung. Namun,dia mencoba untuk menenangkanku dengan cara membalas pelukanku.
                “Kau...kau kenapa Cho? Apa yang terjadi denganmu? Kenapa kau menangis?”  tanya Minho pelan sambil mengusap pelan punggungku. Aku merasa nyaman ketika dia melakukan hal itu. Minho itu sebenarnya adalah teman dekatku sejak beberapa tahun yang lalu. Kami pertama berkenalan di sebuah acara musik. Dia seperti sahabatku sendiri...aku juga tak tau kalau sekali waktu semua perasaan ini akan berubah haha pikiranku mulai kacau.
                “Jadi begini oppa...” aku menceritakan semuanya. Dari mulai pertemuan pertama dengan Lolen, sampai pada saat dia hilang secara tiba-tiba.
                “Hmm...begitu ceritanya.” Aku tiba-tiba sadar, sejak tadi posisiku belum berubah. Aku pun melepaskan pelukanku tersebut dengan salah tingkah. Aku menunduk sambil menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal. Aku sangat malu sekali untuk melihat wajah Minho sekarang.
                “M..maafkan aku. Aku terlalu terbawa suasana sampai-sampai memelukmu seperti tadi oppa hehe.” Aku tersenyum garing saat melihat ekspresi wajahnya yang susah ditebak.
                “Tidak apa-apa Cho, santai saja. Oh ya jadi kau maunya bagaimana habis ini? Mencarinya?” tanya Minho sambil tersenyum hangat kepadaku.
                “Iya...sepertinya begitu. Aku akan tenang, jika nanti di luar aku melihat Lolen sudah bersama eommanya.” Jawabku sambil menundukan kepalaku dengan lemas. Tiba-tiba Minho menggenggam tangan kananku.
                “Ayo kita cari dia di luar” dia pun menarik tanganku lalu mengajakku pergi ke luar. Aku mengikutinya dengan wajah bingung. Aku pun masuk ke dalam mobil yang dikendarai oleh Minho. Minho menyetir mobil dengan pelan supaya aku bisa melihat keadaan sekitar. Siapa tau aku bertemu dengan Lolen...hft aku menyesal. Kalau saja aku tidak meninggalkannya tidur, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini.
                “Cho...apakah kau sudah makan?” suara Minho memecah keheningan.
                “Belum oppa...aku sedang tidak nafsu makan.”jawabku pendek.
                “Kau harus makan atau nanti kau akan sakit.”
                “Nanti saja oppa.”
                “Kau ini keras kepala sekali. Ini sudah sore dan kau belum makan? Oh iya bagaimana kalau kita berhenti di taman bermain yang tidak jauh dari sini. Bukankah kau suka dengan burger? Siapa tau juga kita bisa menemukan Lolen disana.” ajak Minho kepadaku sambil berkonsentrasi dengan keadaan jalan yang saat itu sedang lumayan padat.
                “Ah! Kau pintar sekali oppa. Siapa tau Lolen dan eommanya sedang bermain disitu.” Aku masih sangat berharap sekali kalau Lolen sekarang sedang bersama eommanya. Aku berharap sekali....
                “Nah...gadis pintar.” puji Minho sambil tertawa.
-00-
                Keadaan taman bermain saat itu lumayan sepi dari biasanya. Mungkin, hari ini orang-orang lebih memilih untuk jalan-jalan di pusat perbelanjaan seperti yang dilakukan dongsaeng-dongsaengku saat ini. Aku jadi teringat sesuatu. Aku kan belum minta ijin pada mereka untuk pergi. Hah...sudahlah memang mereka peduli padaku.
                “Oppa...aku lapar.” rengekku pada Minho. Aku menyesal tadi sudah mengatakan bahwa aku tidak lapar. Karena kenyataannya...aku sangat lapar sekali sekarang.
                “Baiklah. Kau tunggu sebentar disini, aku akan membelikanmu burger dulu.” Jawab Minho sambil mengacak rambutku pelan. Aku cemberut tapi tak lama kemudian aku tersenyum sambil mengangguk ke arahnya.
                Aku sibuk memainkan iPhone ku yang dari tadi tidak bersuara. Aku membaca semua pesanku. Aku tersenyum kecil saat melihat semua isi pesanku dengan Minho. Lucu sekali...dia terkadang bisa lebih dewasa daripada aku yang berumur 9 bulan di atasnya. Aku sempat menolak ketika awalnya dia ingin memanggilku noona. Menyebalkan sekali...kesannya aku 10 tahun lebih tua daripada dia.
                5 menit....10 menit...30 menit...Minho tidak juga kembali. Dia membelikanku burger di mana sih? Kenapa lama sekali? Untuk mengusir rasa bosanku, aku pun berjalan-jalan di sekitar taman itu. Taman bermain itu baru saja dibangun, dan aku belum terlalu hapal area disana. Aku berharap saat berjalan nanti aku bisa bertemu dengan Lolen ataupun Minho.
                Hari sudah mulai terasa gelap. Aku melihat jam ditanganku, ternyata sudah hampir jam 7 KST. Aku belum menemukan Minho ataupun Lolen. Ketika aku bermaksud untuk menghubunginya, aku menemukan suatu kenyataan bahwa....baterai telepon genggamku habis! Tuhan...bagaimana ini?
                “Perhatian...perhatian...bagi para pengunjung diharapkan untuk segera keluar dari taman bermain karena waktu berkunjung sudah habis.” Apa? Kenapa aku baru tau kalau taman bermain ini mempunyai batas waktu kunjung yang singkat. Aku pun semakin cemas, aku melihat sekelilingku. Gelap...aku tak tau ini dimana.
                Aku mencoba untuk mencari bangunan yang kira-kira terdapat petugas yang bisa membantuku keluar dari sini. Aku takut mereka tak tau kalau masih ada pengunjung yang terjebak disini. Aku takut...aku takut....dan aku akhirnya menangis lagi untuk kesekian kalinya hari ini. Aku terduduk sendirian di pinggir jalan yang ada di taman bermain itu. Kepalaku aku tenggelamkan di antara kedua pahaku. Aku menangis terisak disana. Aku sudah menyerah. Kenapa hari ini aku sial sekali.
                Tiba-tiba, ada sebuah tangan kecil yang mengusap kepalaku. Aku kaget, dengan perlahan aku menegakkan kepalaku untuk melihat siapa yang mengusap kepalaku. Ternyata...
                “LOLEN!!!” aku langsung memeluknya dengan erat. Ternyata anak ini tidak apa-apa. Aku bahagia sekali melihatnya sehat dan tidak terluka. Aku menangis saat memeluknya.
                “Eonnie...kenapa menangis?”tanya Lolen bingung. Aku melihat ke arahnya sambil tersenyum.
                “Eonnie tidak apa-apa sayang. Hmm...kenapa Lolen bisa ada di sini?” aku bertanya sambil mengusap pipinya yang hangat. Dia hanya tersenyum sambil menarik tanganku. Dia ingin mengajakku kemana?
                Aku semakin bingung ketika aku diajak ke suatu tempat yang gelap dan sepi. Tiba-tiba....
                “HAPPY BIRTHDAY PARK CHORONG!!!” Aku berdiri lemas saat melihat pemandangan yang ada di depanku. Semuanya...semuanya ada di depanku sekarang. Aku menangis semakin hebat saat melihat member-member A Pink, para sunbaeku di BEAST ataupun 4minutes dan teman-temanku ada di hadapanku sekarang. Mereka semua mengerjaiku sial!
                “KALIAAAAN.” Aku berlari ke arah mereka semua sambil mengajak Lolen yang daritadi tertawa melihat kelakuanku.
                “Eonnie...kenapa kau menangis?” Yookyung bertanya sambil menahan...tawanya yang menurutku sangat menyebalkan aaaargh. Ku lihat oppa-oppa ku di Beast juga tertawa puas saat melihat tampangku sekarang.
                “Kalian semua jahat padaku.” Kataku sambil menjitak kepala Bomi, Eunji, Naeun, Yookyung, Namjoo dan Hayoung. Mereka semua menggerutu kesakitan dan aku tertawa puas HAHAHA.
                “YA APPO! Eonnie kajja tiup lilinnya lalu kita potong kuenya. Aku sudah tak sabar.” ajak Namjoo sambil menunjukan wajah rakusnya.
                “Sebentar, dia...” aku melihat sekelilingku mencari seseorang.
                “Kau mencariku ya?” tiba-tiba suara seseorang menepuk pundakku.
                “Minho oppa...kau darimana saja hah? Katanya mau membelikanku burger, tapi mana?” aku bertanya kepadanya sambil cemberut.
                “Kau mau tau? Jadi begini....”
#FLASHBACK
                “Yeobosseyo?”
                “Annyeong oppa...ini aku Eunji. Bisakah kau membantu kami?”
                “Kalau aku bisa, pasti aku akan membantumu. Apa yang bisa aku bantu?”
                “Begini oppa. Tanggal 3 nanti kan Chorong eonnie akan berulang tahun. Rencanya aku dan yang lain ingin memberikan kejutan padanya.”
                “Terus...apa yang harus aku lakukan?”
                “Kau cukup mengajaknya pergi ke taman bermain yang baru dibuka itu. Nanti kau tinggalkan dia sendirian disana. Biarkan dia tersesat hahaha”
                “Kau ini jahat sekali ya. Tapi apakah dia tidak curiga kalau aku tiba-tiba mengjaknya pergi ke taman bermain?”
                “Kau tenang saja oppa. Nanti akan ada Lauren yang menjadi alasan kuat supaya dia tidak curiga saat kau mengajaknya ke taman bermain.”
                “Baiklah. Aku akan membantu kalian.”
                “Gamsahamnida oppa...aku harap kau cepat menyatakan semuanya kepada dia hahaha”
                “Menyatakan apa?”
                “Ah pikir saja sendiri. Annyeong oppa.” Eunji pun menutup sambungan telepon sambil tertawa jahil. Member-member A Pink lainnya kecuali Chorong melihatnya sambil bertanya-tanya.
                “Kenapa kau tertawa? Apakah Minho oppa mau membantu kita?” tanya Naeun penasaran.
                “Tenang saja...dia akan membantu kita.” jawab Eunji sambil mengacungkan jempolnya dan menunjukkan “eyesmile”nya.
                “Hahaha tidak percuma ya saat MAMA 2012 kemarin kau menjadi MC berpasangan dengan Minho oppa.” Bomi berkomentar sambil tertawa keras.
                “Tidak juga sih. Tapi aku yakin Minho oppa mau membantu kita karena ada sesuatu.” Semua member A Pink melihat ke arah Eunji. Mereka bingung, apa maksud dari kata-kata Eunji.
                “Sesuatu? Maksudmu?” Namjoo semakin penasaran.
                “Kita lihat saja nanti.”

#FLASHBACK END

                “YA JADI INI SEMUA JUGA ULAHMU CHOI MINHO?”  tanyaku sambil memukul pundaknya dengan pelan.
                “HAHAHA maafkan aku. Aku melakukan ini semua juga ada alasannya.” Minho tersenyum kepadaku.
                “Alasan? Alasan apa?” aku kembali bertanya sambil menunjukkan wajah bingungku.
                “Alasannya...karena aku mencintaimu. Aku ingin memberikan kenangan indah di hari ulang tahunmu yang ke 22 tahun.” Jawabnya pelan sambil memegang kedua tanganku. Deg....darahku tiba-tiba beku. Lidahku kaku tidak bisa berucap apa-apa saat mendengar kalimat itu. Dia mencintaiku? Apakah ini sebuah mimpi?
                “Oppa...kau mengerjaiku lagi yah?” tanyaku pelan sambil tertawa. Tidak...semua ini pasti ulah jahil mereka untuk mengerjaiku.
                “Tidak...aku sungguh-sungguh. Aku mencintaimu Park Chorong...would you be mine?” aku pun diam setelah mendengar kata-katanya yang keluar dari bibirnya tersebut. Semua orang yang ada disana pun diam sambil menunggu jawabanku.
                “Eonnie...ayo cepat jawab.” Lolen tiba-tiba menaruh tangannya di atas tanganku dan Minho. Aku bingung...perasaanku tidak karuan sekarang.
                “Oppa...maafkan aku tapi...”jawabku hati-hati.
                “Tapi apa? Apa kau tidak mencintaiku juga?” tanya Minho sambil menggegam tanganku makin erat.
                “Maafkan aku...karena aku mencintaimu juga.” aku berkata pelan tapi...ini semua hampir membuatku mati suri. Aku masih terus menunduk. Aku malu apalagi saat mendengar suara teman-temanku yang memberikan selamat kepadaku dan Minho.
                “Park Chorong...liat aku.” Minho mengangkat daguku. Aku pun pasrah.  Wajahku memerah saat aku melihat senyum di wajahnya. Sahabatku...selama ini yang aku anggap sahabatku, ternyata sekarang adalah namjachinguku. Tiba-tiba Minho mendekatkan wajahnya kepadaku. Aku hanya bisa menutup mata untuk menerima segala perlakuannya. Semakin lama, nafas itu semakin dekat...dan dekat...terasa di sekitar wajahku.
                “EONNIE...OPPA!!!! INGAT ADA ANAK KECIL DISINI!!!” Hayoung tiba-tiba berteriak sambil membawa pergi Lolen yang dari tadi ternyata ada di antara aku dan Minho. Hayoung langsung menutup mata Lolen.
                “Hayoung-ah...kau tidak sadar umur hah? Bukannya kau juga belum berumur 17 tahun?” kata Eunji sambil memukul kepala Hayoung yang langsung berteriak kesakitan dan mengusap-usap kepalanya. Semua orang pun tertawa melihat kelakuan mereka bedua. Minho memelukku erat sambil mengusap rambutku. Tuhan...terimakasih untuk hari ini

-00-

Author beneran envy pas nulis FF ini. Masalahnya Minho sama Chorong itu bias author semua;____; Ini FF OS author yang pertama hihihi biasanya Author nulis FF Chapter sih-_-)/ jadi maaf yah kalo ceritanya rada maksa atau gimana. Ditunggu komennya yaa readersJ Sekali lagi...Happy Birthday Chorong Eonnie! ♥
               
                


0 komentar:

Post a Comment

Saturday, March 2, 2013

[FF Special] Happy Birthday...Park Chorong!

Diposkan oleh Annisa Mandasari di 8:07 PM


Author : @nisamanda

Genre : Romance

Cast :

Park Chorong

Choi Minho

Lauren Lunde

Length : OS

Rate : PG 13

HAI..............!!! SINGKAT AJA YA. FF INI AUTHOR BIKIN SPESIAL BUAT CHORONG UNNIE YANG TANGGAL 3 MARET INI ULANG TAUN. SEMOGA KALIAN SUKA^^


-00-


“Hoam.....” sinar matahari sedikit demi sedikit mulai masuk ke dalam kamarku melalui celah-celah jendela yang entah sejak kapan tirainya mulai terbuka.  Aku pun menggeliat sebentar. Sepertinya, aku bangun terlalu siang hari ini. Kenapa mereka tidak membangunkanku?
                Aku bangun dengan raut wajah yang agak sedikit berantakan, seperti keadaan rambutku saat ini. Setelah merasa sudah benar-benar sadar, aku pun berjalan menuju keluar kamar bermaksud untuk melakukan aktivitas pagiku yaitu mengomel pada member-member A Pink lainnya.
                Tapi ketika aku sudah siap-siap untuk melancarkan semua aksiku, aku melihat sesuatu yang janggal. Dorm A Pink sepi! Tidak ada satupun orang di ruang TV. Kemudian aku pun berjalan menuju dapur. Biasanya pagi-pagi seperti ini, Namjoo dan Bomi sudah sibuk untuk memperebutkan jatah sarapan mereka masing-masing yang sepertinya tidak akan pernah cukup.
                “Kemana mereka semua? Apakah mereka semua pergi? Tapi kenapa mereka semua tidak pamit kepadaku?” aku berbicara sendiri seperti orang tidak waras. Setelah puas untuk mengomel, aku pun terduduk di sofa ruang TV. Saat ingin mengambil remote untuk menyalakan televisi, aku melihat ada secarik kertas yang tergeletak di meja tempat remote itu berada.
                Dear Chorong Eonnie yang Cantik
                Eonnie...maafkan kami. Kami ingin pergi ke pusat perbelanjaan dulu untuk menghibur diri dulu dari segala aktivitas A Pink yang sangat padat selama ini. Sebenarnya, kami semua ingin mengajakmu. Tapi bagaimana lagi? Kau terlihat sangat lelah jadi kami tidak berani untuk mengganggumu. Jangan lupa bereskan rumah ya eonnie^^ kami menyayangimu hihihi
                Dari: Kami yang menyanyangimu ^o^
                Aaarrgggh sial! Mereka semua mengerjaiku. Aku membayangkan, pasti mereka semua sekarang sedang bersenang-senang. Sedangkan aku? Harus terdampar disini sendirian sambil membersihkan rumah. Tuhan...kenapa mereka semua tega sekali padaku? Bukankah aku selama ini selalu baik pada mereka?
-00-

                “Hahaha pasti chorong eonnie sekarang sedang menangis karena membaca memo dari kita.” kata Bomi sambil tertawa puas. Member A Pink lainnya pun langsung melihat ke arahnya.
                “Aku sebenarnya tidak tega melakukan semua ini. Kalau saja hari ini bukan hari spesialnya.” komentar Naeun sambil menundukan kepalanya. Mereka semua langsung terdiam dan ikut tertunduk juga. Sebenarnya, mereka semua berpikiran sama. Tidak ada yang pernah tega untuk mengerjai sang leader. Leader mereka tersebut, walaupun kadang-kadang galak tapi nyatanya dia sangat sayang tehadap semua member lain yang umurnya lebih muda daripada dia. Eunji, Bomi, Naeun, Yookyung, Namjoo, dan Hayoung pun juga sangat menyayangi Chorong. Kalau saja hari ini bukan tanggal 3 Maret...mungkin mereka tidak akan pernah berpikir untuk melakukan ini semua.
                “Ya! Kalian semua jangan sedih seperti ini. Kita harus tega pada Chorong eonnie. Ingat, hari ini kita akan memberikan kejutan padanya.” Eunji tiba-tiba bersuara. 3 Maret? Ingatkah kalian ada apa hari ini? Ya hari ini adalah hari ulang tahun Chorong. Dan mereka semua disini sekarang bersiap-siap untuk memberikan kejutan pada leadernya tersebut.
                “Baiklah...jadi apa yang akan kita lakukan hari ini?” Hayoung yang dari tadi diam akhirnya bertanya dengan nada polos.
                “Kita lihat saja nanti. Aku yakin Chorong eonnie pasti akan menyukainya.” jawab Bomi sambil tersenyum evil.

-00-

                Chorong POV
                Akhirnya....setalah sejak tadi pagi aku sibuk membersihkan seisi rumah, aku pun bisa duduk santai untuk beristirahat. Aku melihat sekelilingku yang tampak lebih baik. Aku mengerti kenapa ada pribahasa yang mengatakan bahwa “berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.” Ternyata, membersihkan rumah secara bersama-sama lebih mudah ketimbang mengerjakan semuanya sendiri.
                Biasanya aku yang  bertugas untuk membagi pekerjaan rumah pada masing-masing member. Eunji tugasnya menyapu. Naeun membersihkan kaca. Bomi mengepel lantai. Yookyung membereskan ruang TV. Sedangkan, Namjoo dan Hayoung bertugas untuk memasak juga mencuci piring. Aku jadi merindukan mereka. Mereka pasti sekarang sedang bersenang-senang tanpaku.
                Aku berniat untuk beristirahat sejenak. Baru saja aku ingin menyalakan televisi, tiba-tiba aku mendengar suara seseorang dari luar. Aku pun kemudian beranjak bangun dari sofa dan berjalan menuju ke arah pintu dari luar. Semakin dekat....semakin terdengar suara tersebut. Seperti suara orang sedang menangis.
                “Huaaaa....hiks hiks hueeee” tangis itu pun makin lama terdengar semakin kencang. Aku berniat untuk membuka pintu dan melihat siapa yang sedang menangis di luar. Tapi tak lama kemudian aku ingin berubah pikiran. Aku takut kalau ternyata itu adalah suara orang yang berniat jahat padaku.
                Aku pun kemudian mengambil tongkat baseball milik Eunji yang terletak tak jauh dari tempatku berada sekarang. Aku sudah bersiap-siap untuk menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi. Ternyata....
                “Hueeeee...hiks hueeee” aku melihat seorang gadis kecil sedang menangis sambil terduduk di depan pintu dorm kami. Gadis kecil itu sepertinya sudah lama menangis dan...aku bingung bagaimana harus menghadapinya. Aku pun mendekatinya dan mengusap pipinya yang merah.
                “Adik kecil...kenapa kamu menangis?” aku bertanya sambil mengusap kepalanya. Ku lihat dia memperhatikanku sebentar kemudian tak lama dia kembali melanjutkan kegiatan menangisnya. Aku semakin bingung. Tuhan...aku harus bagaimana?
                “Cupcupcup jangan menangis sayang. Aku harus bagaimana supaya kau tidak menangis?” aku mulai frustasi. Tangisnya tak lama kemudian mulai berkurang, hanya sisa isakan yang masih ada.
                “Jadi, namamu siapa adik kecil?” tanyaku sambil tersenyum
                “Hiks...namaku Lolen.” jawabnya singkat sambil mengusap kedua matanya yang berair.
                “Hmm...jadi kenapa Lolen bisa ada disini?” tanyaku hati-hati sambil mengusap pelan rambutnya.
                “Hiks...lolen tadi disuruh tunggu disini sama eomma. Katanya eomma mau pergi sebentar. Tapi eomma perginya lama. Eomma ninggalin lolen hueeee” Lolen kembali menangis. Aku semakin bingung. Bagaimana caranya agar dia tidak menangis lagi? Memang sih panggilanku adalah Rongma. Tapi bukan berarti aku bisa dengan mudah menghentikan anak kecil yang sedang menangis seperti sekarang ini.
                “Lolen sayang jangan menangis. Bagaimana kalau lolen sekarang masuk dulu ke dalam dorm eonnie? Lalu kita bermain di dalam sambil menunggu eomma kamu datang.” Ajakku lembut kepadanya. Ku lihat tangisnya kembali berhenti. Dia melihat padaku dengan tatapan polosnya. Aigoo...lucunya anak ini.
                “Baiklah eonnie...tapi eonnie tidak akan jahat pada Lolen kan?” tanyanya dengan takut-takut. Apakah tampang polos sepertiku ini bisa dibilang tampang orang jahat? Hft lama-lama aku frustasi.
                “Tidak mungkin sayang. Eonnie orang yang baik. Kajja kita masuk.” aku pun memegang tangannya dan mengajaknya masuk. Untung keadaan dorm sudah bersih...kalau tidak aku pasti akan malu pada anak kecil ini.
                “Eonnie...apakah eonnie sendirian disini?” lolen bertanya sambil melihat keadaan sekelilingnya yang memang sepi. Aku pun menghela nafas panjang.
                “Sebenarnya tidak. Eonnie tinggal dengan 6 orang adik eonnie disini. Tapi mereka sedang pergi sekarang. Kalau mereka sudah pulang, Lolen pasti bisa bermain dengan mereka.” Ya itu juga kalau mereka pulang. Hari sudah siang tapi kenapa mereka belum pulang juga? Apakah mereka tersesat? Sepertinya tidak mungkin. Aku sebenarnya daritadi sudah menghubungi mereka. Tapi sial telepon genggam mereka tidak ada yang aktif.
                “Oh begitu...eonnie aku bosan. Aku ingin menonton.”
                “Baiklah...mari kita lihat acara TV siapa tau ada yang menarik.” Kemudian aku menyalakan televisi. Apa ini? Di hari sabtu seperti ini kenapa semua acara TV rata-rata adalah drama percintaan? Lolen tidak mungkin menonton acara seperti ini. Aku pun mencari akal. Aha! Aku tau.
                Aku berlari menuju kamar Hayoung, meninggalkan Lolen yang sepertinya sedang asyik bermain dengan remote TV. Di kamar Hayoung, ternyata berantakan sekali. Aku mencari sebuah barang. Ketika mencari, aku pun menemukan sesuatu. Sebuah tanggal berbentuk badan Rilakkuma. Karena iseng, aku mengambil tanggal tersebut. Siapa tau  Hayoung merencanakan sesuatu karena ku lihat ada beberapa tanda yang terdapat di masing-masing tanggal itu.
                Ketika sampai di bulan Maret, aku menemukan sebuah tanda di tanggal 3. Ya...itu adalah hari ulang tahunku dan hari itu adalah hari ini. Namun, sepertinya mereka semua lupa dengan hari spesialku itu. Entahlah...tapi memang benar buktinya tak ada satupun teman-teman satu agency ku dari Cube yang mengucapkan selamat kepadaku. Biasanya dari pagi, para sunbae dan hoobae ku tidak pernah lupa.
                “EONNIE.......” aku tersadar dari lamunanku. Sepertinya, Lolen memanggilku. Aku pun bergegas untuk mencari barang yang aku cari. Hore! Akhirnya ketemu.
                “Mian, eonnie tadi mencari sesuatu dulu. Ini yang eonnie cari hehe.” Jawabku sambil menunjukan DVD Pororo yang sekarang ada di tanganku. Aku tau maknae masih menyimpan barang-barang seperti ini, makanya aku mencari ditempatnya.
                “Yey! Lolen suka Pororo.” Lolen berteriak senang saat aku menunjukkan DVD Pororo tersebut. Aku tau, anak-anak kecil di dunia khususnya di Korea saat ini sedang terkena demam Pororo. Menurutku, pinguin kecil itu memang lucu. Maka dari itu, tidak salah banyak orang yang menyukainya termasuk aku. Tapi...aku tidak separah Lolen sih hehehe
“Eonnie...ayo nyalakan film ini.” pinta Lolen sambil menarik bajuku.
                “Baiklah...tunggu sebentar.” Sambil memasang DVD itu, aku pun melirik jam. Ya ampun...sudah jam 12 siang dan mereka belum pulang juga? omelku dalam hati. Setelah DVD Pororo tersebut terpasang, aku pun duduk kembali di sebelah Lolen dan menemaninya menonton. Entah karena kelelahan...aku pun tertidur ketika mendengarkan musik yang dimainkan oleh kartun tersebut.
-00-
                Dering telepon genggamku, tiba-tiba saja membuatku terbangun. Aku pun langsung menjawab tanpa melihat siapa yang ada diseberang sana, yang sedang meneleponku.
                “Yeobosseyo?” tanyaku membuka percakapan.
                “Cho...ini aku Minho. Apakah kau sedang di rumah?”
                “Iya aku sedang di rumah, memangnya kenapa?” Aku menguap sebentar saat menjawabnya.    “Tidak. Aku ingin mengajakmu pergi ke taman bermain. Apakah kau sedang sibuk?”
                “Hah? Tumben sekali...sebenarnya aku sedang sibuk me-“ aku refleks menoleh ke arah sebelahku. Ya ampun....dia kemana?
                Tanpa menghiraukan Minho yang daritadi memanggil namaku di telepon,  aku tetap mencari dia. Ya! Lolen... dia kemana??? Terakhir aku meninggalkannya karena tertidur, aku ingat dia masih ada di sebelahku sambil menonton Pororo. Tapi...tapi kemana dia sekarang? Jeritku dalam hati.
                Aku mencari ke segala sudut ruangan. Tidak ada...tidak ada...aku ingin menangis. Apakah eommanya sudah menjemput dia? Tapi kenapa mereka tidak pamit dulu kepadaku?
                “Oppa...tolong aku. Cepatlah datang ke dormku sekarang juga.” aku mulai menangis ketika berbicara dengan Minho. Sebenarnya umurku dan dia tidak jauh berbeda, kita satu lines. Tapi aku sudah terbiasa sejak dulu memanggilnya oppa. Memang aneh, tapi sepertinya Minho sudah terbiasa dengan itu semua.
                “Kau kenapa cho? Baiklah aku akan ke sana sekarang juga. Jangan menangis.” Minho mencoba untuk menenangkanku. Aku terduduk lesu di sofa. Pikiranku kalut karena Lolen. Aku takut...saat tertidur tadi, dia pergi ke luar dan ternyata dia diculik oleh orang jahat! Tidak...aaaaaaargh. Aku terisak saat memikirkan itu.
                Bagaimanapun juga, walaupun baru kenal tapi sebenarnya aku sangat menyesal jika Lolen sekarang benar-benar diculik orang jahat. Aku sangat menyayangi anak kecil...membayangkannya saja sudah membuatku ingin menangis.
                Ting...Tong...Ting...Tong
                Suara bel dorm berbunyi. Itu pasti Minho! Ketika membuka pintu, tanpa bu-bi-bu(?) aku pun langsung memeluknya. Aku menangis dipelukannya. Aku takut...aku takut terjadi apa-apa dengan Lolen. Minho sepertinya kaget dan bingung. Namun,dia mencoba untuk menenangkanku dengan cara membalas pelukanku.
                “Kau...kau kenapa Cho? Apa yang terjadi denganmu? Kenapa kau menangis?”  tanya Minho pelan sambil mengusap pelan punggungku. Aku merasa nyaman ketika dia melakukan hal itu. Minho itu sebenarnya adalah teman dekatku sejak beberapa tahun yang lalu. Kami pertama berkenalan di sebuah acara musik. Dia seperti sahabatku sendiri...aku juga tak tau kalau sekali waktu semua perasaan ini akan berubah haha pikiranku mulai kacau.
                “Jadi begini oppa...” aku menceritakan semuanya. Dari mulai pertemuan pertama dengan Lolen, sampai pada saat dia hilang secara tiba-tiba.
                “Hmm...begitu ceritanya.” Aku tiba-tiba sadar, sejak tadi posisiku belum berubah. Aku pun melepaskan pelukanku tersebut dengan salah tingkah. Aku menunduk sambil menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal. Aku sangat malu sekali untuk melihat wajah Minho sekarang.
                “M..maafkan aku. Aku terlalu terbawa suasana sampai-sampai memelukmu seperti tadi oppa hehe.” Aku tersenyum garing saat melihat ekspresi wajahnya yang susah ditebak.
                “Tidak apa-apa Cho, santai saja. Oh ya jadi kau maunya bagaimana habis ini? Mencarinya?” tanya Minho sambil tersenyum hangat kepadaku.
                “Iya...sepertinya begitu. Aku akan tenang, jika nanti di luar aku melihat Lolen sudah bersama eommanya.” Jawabku sambil menundukan kepalaku dengan lemas. Tiba-tiba Minho menggenggam tangan kananku.
                “Ayo kita cari dia di luar” dia pun menarik tanganku lalu mengajakku pergi ke luar. Aku mengikutinya dengan wajah bingung. Aku pun masuk ke dalam mobil yang dikendarai oleh Minho. Minho menyetir mobil dengan pelan supaya aku bisa melihat keadaan sekitar. Siapa tau aku bertemu dengan Lolen...hft aku menyesal. Kalau saja aku tidak meninggalkannya tidur, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini.
                “Cho...apakah kau sudah makan?” suara Minho memecah keheningan.
                “Belum oppa...aku sedang tidak nafsu makan.”jawabku pendek.
                “Kau harus makan atau nanti kau akan sakit.”
                “Nanti saja oppa.”
                “Kau ini keras kepala sekali. Ini sudah sore dan kau belum makan? Oh iya bagaimana kalau kita berhenti di taman bermain yang tidak jauh dari sini. Bukankah kau suka dengan burger? Siapa tau juga kita bisa menemukan Lolen disana.” ajak Minho kepadaku sambil berkonsentrasi dengan keadaan jalan yang saat itu sedang lumayan padat.
                “Ah! Kau pintar sekali oppa. Siapa tau Lolen dan eommanya sedang bermain disitu.” Aku masih sangat berharap sekali kalau Lolen sekarang sedang bersama eommanya. Aku berharap sekali....
                “Nah...gadis pintar.” puji Minho sambil tertawa.
-00-
                Keadaan taman bermain saat itu lumayan sepi dari biasanya. Mungkin, hari ini orang-orang lebih memilih untuk jalan-jalan di pusat perbelanjaan seperti yang dilakukan dongsaeng-dongsaengku saat ini. Aku jadi teringat sesuatu. Aku kan belum minta ijin pada mereka untuk pergi. Hah...sudahlah memang mereka peduli padaku.
                “Oppa...aku lapar.” rengekku pada Minho. Aku menyesal tadi sudah mengatakan bahwa aku tidak lapar. Karena kenyataannya...aku sangat lapar sekali sekarang.
                “Baiklah. Kau tunggu sebentar disini, aku akan membelikanmu burger dulu.” Jawab Minho sambil mengacak rambutku pelan. Aku cemberut tapi tak lama kemudian aku tersenyum sambil mengangguk ke arahnya.
                Aku sibuk memainkan iPhone ku yang dari tadi tidak bersuara. Aku membaca semua pesanku. Aku tersenyum kecil saat melihat semua isi pesanku dengan Minho. Lucu sekali...dia terkadang bisa lebih dewasa daripada aku yang berumur 9 bulan di atasnya. Aku sempat menolak ketika awalnya dia ingin memanggilku noona. Menyebalkan sekali...kesannya aku 10 tahun lebih tua daripada dia.
                5 menit....10 menit...30 menit...Minho tidak juga kembali. Dia membelikanku burger di mana sih? Kenapa lama sekali? Untuk mengusir rasa bosanku, aku pun berjalan-jalan di sekitar taman itu. Taman bermain itu baru saja dibangun, dan aku belum terlalu hapal area disana. Aku berharap saat berjalan nanti aku bisa bertemu dengan Lolen ataupun Minho.
                Hari sudah mulai terasa gelap. Aku melihat jam ditanganku, ternyata sudah hampir jam 7 KST. Aku belum menemukan Minho ataupun Lolen. Ketika aku bermaksud untuk menghubunginya, aku menemukan suatu kenyataan bahwa....baterai telepon genggamku habis! Tuhan...bagaimana ini?
                “Perhatian...perhatian...bagi para pengunjung diharapkan untuk segera keluar dari taman bermain karena waktu berkunjung sudah habis.” Apa? Kenapa aku baru tau kalau taman bermain ini mempunyai batas waktu kunjung yang singkat. Aku pun semakin cemas, aku melihat sekelilingku. Gelap...aku tak tau ini dimana.
                Aku mencoba untuk mencari bangunan yang kira-kira terdapat petugas yang bisa membantuku keluar dari sini. Aku takut mereka tak tau kalau masih ada pengunjung yang terjebak disini. Aku takut...aku takut....dan aku akhirnya menangis lagi untuk kesekian kalinya hari ini. Aku terduduk sendirian di pinggir jalan yang ada di taman bermain itu. Kepalaku aku tenggelamkan di antara kedua pahaku. Aku menangis terisak disana. Aku sudah menyerah. Kenapa hari ini aku sial sekali.
                Tiba-tiba, ada sebuah tangan kecil yang mengusap kepalaku. Aku kaget, dengan perlahan aku menegakkan kepalaku untuk melihat siapa yang mengusap kepalaku. Ternyata...
                “LOLEN!!!” aku langsung memeluknya dengan erat. Ternyata anak ini tidak apa-apa. Aku bahagia sekali melihatnya sehat dan tidak terluka. Aku menangis saat memeluknya.
                “Eonnie...kenapa menangis?”tanya Lolen bingung. Aku melihat ke arahnya sambil tersenyum.
                “Eonnie tidak apa-apa sayang. Hmm...kenapa Lolen bisa ada di sini?” aku bertanya sambil mengusap pipinya yang hangat. Dia hanya tersenyum sambil menarik tanganku. Dia ingin mengajakku kemana?
                Aku semakin bingung ketika aku diajak ke suatu tempat yang gelap dan sepi. Tiba-tiba....
                “HAPPY BIRTHDAY PARK CHORONG!!!” Aku berdiri lemas saat melihat pemandangan yang ada di depanku. Semuanya...semuanya ada di depanku sekarang. Aku menangis semakin hebat saat melihat member-member A Pink, para sunbaeku di BEAST ataupun 4minutes dan teman-temanku ada di hadapanku sekarang. Mereka semua mengerjaiku sial!
                “KALIAAAAN.” Aku berlari ke arah mereka semua sambil mengajak Lolen yang daritadi tertawa melihat kelakuanku.
                “Eonnie...kenapa kau menangis?” Yookyung bertanya sambil menahan...tawanya yang menurutku sangat menyebalkan aaaargh. Ku lihat oppa-oppa ku di Beast juga tertawa puas saat melihat tampangku sekarang.
                “Kalian semua jahat padaku.” Kataku sambil menjitak kepala Bomi, Eunji, Naeun, Yookyung, Namjoo dan Hayoung. Mereka semua menggerutu kesakitan dan aku tertawa puas HAHAHA.
                “YA APPO! Eonnie kajja tiup lilinnya lalu kita potong kuenya. Aku sudah tak sabar.” ajak Namjoo sambil menunjukan wajah rakusnya.
                “Sebentar, dia...” aku melihat sekelilingku mencari seseorang.
                “Kau mencariku ya?” tiba-tiba suara seseorang menepuk pundakku.
                “Minho oppa...kau darimana saja hah? Katanya mau membelikanku burger, tapi mana?” aku bertanya kepadanya sambil cemberut.
                “Kau mau tau? Jadi begini....”
#FLASHBACK
                “Yeobosseyo?”
                “Annyeong oppa...ini aku Eunji. Bisakah kau membantu kami?”
                “Kalau aku bisa, pasti aku akan membantumu. Apa yang bisa aku bantu?”
                “Begini oppa. Tanggal 3 nanti kan Chorong eonnie akan berulang tahun. Rencanya aku dan yang lain ingin memberikan kejutan padanya.”
                “Terus...apa yang harus aku lakukan?”
                “Kau cukup mengajaknya pergi ke taman bermain yang baru dibuka itu. Nanti kau tinggalkan dia sendirian disana. Biarkan dia tersesat hahaha”
                “Kau ini jahat sekali ya. Tapi apakah dia tidak curiga kalau aku tiba-tiba mengjaknya pergi ke taman bermain?”
                “Kau tenang saja oppa. Nanti akan ada Lauren yang menjadi alasan kuat supaya dia tidak curiga saat kau mengajaknya ke taman bermain.”
                “Baiklah. Aku akan membantu kalian.”
                “Gamsahamnida oppa...aku harap kau cepat menyatakan semuanya kepada dia hahaha”
                “Menyatakan apa?”
                “Ah pikir saja sendiri. Annyeong oppa.” Eunji pun menutup sambungan telepon sambil tertawa jahil. Member-member A Pink lainnya kecuali Chorong melihatnya sambil bertanya-tanya.
                “Kenapa kau tertawa? Apakah Minho oppa mau membantu kita?” tanya Naeun penasaran.
                “Tenang saja...dia akan membantu kita.” jawab Eunji sambil mengacungkan jempolnya dan menunjukkan “eyesmile”nya.
                “Hahaha tidak percuma ya saat MAMA 2012 kemarin kau menjadi MC berpasangan dengan Minho oppa.” Bomi berkomentar sambil tertawa keras.
                “Tidak juga sih. Tapi aku yakin Minho oppa mau membantu kita karena ada sesuatu.” Semua member A Pink melihat ke arah Eunji. Mereka bingung, apa maksud dari kata-kata Eunji.
                “Sesuatu? Maksudmu?” Namjoo semakin penasaran.
                “Kita lihat saja nanti.”

#FLASHBACK END

                “YA JADI INI SEMUA JUGA ULAHMU CHOI MINHO?”  tanyaku sambil memukul pundaknya dengan pelan.
                “HAHAHA maafkan aku. Aku melakukan ini semua juga ada alasannya.” Minho tersenyum kepadaku.
                “Alasan? Alasan apa?” aku kembali bertanya sambil menunjukkan wajah bingungku.
                “Alasannya...karena aku mencintaimu. Aku ingin memberikan kenangan indah di hari ulang tahunmu yang ke 22 tahun.” Jawabnya pelan sambil memegang kedua tanganku. Deg....darahku tiba-tiba beku. Lidahku kaku tidak bisa berucap apa-apa saat mendengar kalimat itu. Dia mencintaiku? Apakah ini sebuah mimpi?
                “Oppa...kau mengerjaiku lagi yah?” tanyaku pelan sambil tertawa. Tidak...semua ini pasti ulah jahil mereka untuk mengerjaiku.
                “Tidak...aku sungguh-sungguh. Aku mencintaimu Park Chorong...would you be mine?” aku pun diam setelah mendengar kata-katanya yang keluar dari bibirnya tersebut. Semua orang yang ada disana pun diam sambil menunggu jawabanku.
                “Eonnie...ayo cepat jawab.” Lolen tiba-tiba menaruh tangannya di atas tanganku dan Minho. Aku bingung...perasaanku tidak karuan sekarang.
                “Oppa...maafkan aku tapi...”jawabku hati-hati.
                “Tapi apa? Apa kau tidak mencintaiku juga?” tanya Minho sambil menggegam tanganku makin erat.
                “Maafkan aku...karena aku mencintaimu juga.” aku berkata pelan tapi...ini semua hampir membuatku mati suri. Aku masih terus menunduk. Aku malu apalagi saat mendengar suara teman-temanku yang memberikan selamat kepadaku dan Minho.
                “Park Chorong...liat aku.” Minho mengangkat daguku. Aku pun pasrah.  Wajahku memerah saat aku melihat senyum di wajahnya. Sahabatku...selama ini yang aku anggap sahabatku, ternyata sekarang adalah namjachinguku. Tiba-tiba Minho mendekatkan wajahnya kepadaku. Aku hanya bisa menutup mata untuk menerima segala perlakuannya. Semakin lama, nafas itu semakin dekat...dan dekat...terasa di sekitar wajahku.
                “EONNIE...OPPA!!!! INGAT ADA ANAK KECIL DISINI!!!” Hayoung tiba-tiba berteriak sambil membawa pergi Lolen yang dari tadi ternyata ada di antara aku dan Minho. Hayoung langsung menutup mata Lolen.
                “Hayoung-ah...kau tidak sadar umur hah? Bukannya kau juga belum berumur 17 tahun?” kata Eunji sambil memukul kepala Hayoung yang langsung berteriak kesakitan dan mengusap-usap kepalanya. Semua orang pun tertawa melihat kelakuan mereka bedua. Minho memelukku erat sambil mengusap rambutku. Tuhan...terimakasih untuk hari ini

-00-

Author beneran envy pas nulis FF ini. Masalahnya Minho sama Chorong itu bias author semua;____; Ini FF OS author yang pertama hihihi biasanya Author nulis FF Chapter sih-_-)/ jadi maaf yah kalo ceritanya rada maksa atau gimana. Ditunggu komennya yaa readersJ Sekali lagi...Happy Birthday Chorong Eonnie! ♥
               
                


0 komentar on "[FF Special] Happy Birthday...Park Chorong!"

Post a Comment

 

Why So Serious? Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review